Batas-Batas Nasehat Ekonomi

Beberapa waktu lalu warga di kampung kami mengadakan rapat. Tujuannya, mencari solusi terbaik agar anak-anak bisa bermain (mis. main sepeda) dengan lebih leluasa dan aman. Soalnya, rumah kami terletak di jalan buntu dan mulut jalan buntu kami berhadapan langsung dengan jalan raya yang ramai. Beberapa tetangga usul, agar jalan kami diaspal; biayanya akan ditanggung secara urunan. Ada juga gagasan untuk memasang polisi tidur, persisnya di sebelah kanan jalan raya, kurang-lebih 5 meter dari mulut jalan ke rumah kami.

Tentang aspal, kebanyakan dari kami yang hadir setuju—termasuk saya. Tapi ada juga yang tidak. Setelah ditanyakan kepada satu keluarga yang tidak setuju, kami kemudian paham bahwa sebenarnya mereka tidak keberatan. Mereka cuma tidak dapat berjanji bisa ikut urunan minggu depan, ketika rencana warga ini akan diwujudkan.

Tentang polisi tidur, nah ini cukup menarik. Ternyata konstelasi :p) warga terbagi menjadi dua kubu antara mereka yang setuju dan yang tidak. Saya termasuk kelompok kedua; tapi perlu saya tambahkan, posisi ini tidak berarti saya tidak memahami warga yang menginginkan polisi tidur.

Seminggu kemudian, jalan buntu di depan rumah kami pun beraspal. Tanpa bantuan pemerintah (!), walau saya yakin hampir semua orang di lingkungan kami belum pernah baca The Cartel of Good Intention-nya Easterly. Tapi polisi tidur tidak dipasang. Selain karena tidak ada kesepakatan, ternyata bikin jalanan beraspal tidak murah, bo.

*
Walau sederhana, kasus nyata di atas rasanya mengandung banyak isu multidisipliner; di dalamnya ada dimensi politik, hukum, psikologi, etika, matematika, ekonomi, dll. Yang mau saya angkat sebagai fokus tulisan ini adalah yang terakhir: isu ekonomi, terutama yang ada hubungannya dengan penilaian individu. Posting ini masih menyerempet fokus dalam dua posting saya terdahulu, yaitu tentang preferensi dan sifat bebas-nilai ilmu ekonomi. Keterserempetan ini adalah modal yang cukup memotivasi:p)

Dalam posting tentang preferensi, kesimpulan yang saya tarik adalah: sebelum orang dapat menjatuhkan pilihan tertentu, perlu ada preferensi terlebih dahulu. Jika ditelusuri terus ke belakang, dapat dikatakan bahwa preferensi mengharuskan adanya ”pengetahuan”, setidak-tidaknya terhadap dua aspek yang berbeda dari sebuah objek atau lebih. Lalu, pengetahuan itu sendiri kita peroleh dari pengalaman, pendidikan, pemikiran deduktif/induktif, indoktrinasi, dll.

Sayangnya--dan juga untungnya, ”pengetahuan” yang dibutuhkan tidak selalu tersedia. Kenyataan ini gampang diterima, sebab tidak ada manusia yang tahu segala hal. Dalam kondisi demikian, preferensi dipastikan tidak dapat terbentuk. Tambahan pula, karena ”pengetahuan” dapat berubah bersama waktu, maka demikian pula preferensi. Jadi dapat disimpulkan bahwa prefensi, dalam pemikiran ekonomi, sifatnya spesifik; dia mengacu pada pilihan-pilihan pada suatu titik waktu tertentu.

Saat orang tidak punya preferensi atau tidak berhasil ”mengerahkannya”, maka di saat itu ia tidak bisa mengambil satu pilihan tertentu. Ia akan netral, indifferent, atau semata-mata bingung. Pilihan yang mana yang akhirnya diambil, jika diambil, akan menghasilkan tingkat kepuasan—atau tingkat kekecewaan--yang sama. Jika orang tersebut lempar koin atau minta nasehat orang lain untuk menetapkan pilihannya, itu sah-sah saja. Tapi mengapa dan bagaimana orang menentukan kandungan pilihannya atau mengatasi dilemanya bukan urusan ekonom. Yang menjadi ”data” bagi ekonom adalah pilihan yang diambil orang tersebut, sebagaimana didemonstrasikan melalui pilihan yang akhirnya diambil olehnya.

Tingkat kepuasan (kekecewaan) ini subyektif dan tergantung pada skedul nilai seseorang. Skedul nilai tidak lain adalah skedul preferensi itu sendiri, fitur kompleks manusiawi yang menyatu dengan pusat semesta keberadaan seseorang, apapun itu namanya. Dalam contoh di RT kami, dalam skedul nilai saya pribadi, jalan beraspal saya tempatkan dalam urutan yang lebih tinggi daripada polisi tidur, tetapi saya tidak bisa menguantifikasi seberapa kali lebih besar nilai aspal dibandingkan dengan nilai polisi tidur. Saya juga tidak punya dasar untuk melakukan aproksimasi berapa nilai moneter kompensasi yang pas agar saya nrimo jalanan tanpa aspal (kalaupun ada yang mau membayar). Dari sini dapat disimpulkan satu ciri skedul nilai, tingkat kepuasan dalam sistem skedul nilai seseorang tidak bisa dikalkulasikan secara kardinal, dan tidak selalu bersifat numerikal, ataupun diubah secara obyektif menjadi numerikal, mis. dalam satuan moneter.

Pada titik ini, dalam perkembangan pemikiran ekonomi terdapat perbedaan mendasar seputar teori nilai/utilitas. Pandangan populer menerima subyektivitas tetapi menolak ketidak-bisaan-dalam-mengkuantifikasikannya. Dalam pandangan ini, semuanya (harus) dapat diukur; paling tidak diagregatkan. Milton Friedman, misalnya, pernah bilang bahwa salah satu tugas sains adalah untuk mengukur. Beberapa buku teks memperkenalkan istilah util untuk mengukur utilitas atau manfaat sebuah benda/jasa. Tapi gerangan apakah benda ini, hingga sekarang masih dicari.

Jika pemahaman saya terhadap ekonomi ini tepat, maka teori utilitas dan nilai yang subyektif ini sungguh amat penting sekali; mungkin yang terpenting setelah ilmu ini berhasil menyarikan hukum ekonomi terhadap suplai dan demand.

Anyways, sementara si-util hingga kini masih harus ditemukan, aplikasi ekonomi terus merambah ke mana-mana. Hampir tidak ada aspek kehidupan yang luput. Ilmu ekonomi sudah terlanjur dianggap, secara sembrono dan keliru saya kira, sebagai Ratu atau Dewa (atau Kerispatih atau Gigi) ilmu sosial. Dugaan saya, ini akibat tameng identitas atau pemodelan matematis, yang jika semakin rumit, akan dianggap semakin canggih. Tapi yang saya percaya, perambahan ekonomi ke semua bidang adalah hal wajar, sebab ekonomi pada hakikatnya adalah ilmu kajian tentang pilihan-pilihan manusia, yang berangkat dari satu aksioma universal bahwa manusia adalah makhluk yang bertindak secara sadar atas suatu pilihan tujuan.

Tapi, sebetulnya sejauh apa ilmu ini bisa memberi tilikan ataupun masukan yang memengaruhi pilihan atau preferensi manusia? Teori ekonomi apa yang bisa dipakai untuk mengobyektifkan keadaan bahwa warga di RT kami sebaiknya (tidak) memasang polisi tidur di dekat kompleks kami? Argumen ekonomis-ilmiah apa yang dapat disampaikan ekonom kepada seorang anak tetangga yang tidak suka makan mangga untuk mengubah preferensinya?

Jawabannya, cukup mengejutkan: hampir tidak ada. Sebab serupa dengan semua ilmu pengetahuan lain yang obyektif, pengetahuan ekonomi paling banter bertugas untuk mendeskripsikan hal-hal obyektif dan hubungan-hubungan serta konsekuensi-konsekuensi logis, terutama yang ”tidak terlihat” secara seketika atau dalam jangka pendek, dari atau terhadap satu dan lain hal. Ketika seorang ekonom mencoba menarik kesimpulan obyektif untuk sesuatu yang subyektif melalui argumen ekonomi, baik dengan bantuan ”modeling” ataupun metode ”saintistik”, maka hampir dapat dipastikan ia akan melakukannya secara tidak sah. Jika nalar ekonominya membuat sang ekonom bersikap pro terhadap polisi tidur dan menurutnya orang lain seharusnya juga demikian, ia tidak dapat mengubah yang ”is” menjadi ”ought”.

Subyektivitas nilai dan obyektivitas disiplin ekonomi adalah dua perkara berbeda. Barangkali, dengan keterbatasan disiplin ekonomi, hal pertama yang harus disampaikan seorang ekonom ketika terjadi benturan dua hal berbeda tersebut adalah menyampaikan apa yang tidak dapat dilakukannya. Jika ia melakukannya, ia berpeluang tergelincir ke dalam upaya moralizing secara implisit; maksudnya, ia mungkin tanpa disadarinya akan lebih menggunakan argumen moral daripada argumen ekonomi.

Pada titik ini, jika anda merasakan apa yang saya rasakan, ilmu ekonomi terasa ”dingin” sekali. Tidak dapatkah ilmu ekonomi memberi kita dasar pemikiran untuk menyampaikan suatu nasehat tentang hal-hal baik yang berterima secara umum dan obyektif? Bukankah pengetahuan dan pemahaman ekonomi menjadi bernilai tidak bagi ilmu itu sendiri, melainkan atas manfaatnya dalam membantu manusia menjawab kebutuhan-kebutuhan praktis?

Ekonomi tidak harus sedingin itu? OK. Di bagian selanjutnya saya akan coba bahas hal ini.

(Bersambung)

Krisis Ekonom

Artikel di Business News (ed. 7497) yang berjudul Krisis Ilmu Ekonomi dan Munculnya Paradigma Baru Ekonomi memuat agak terlalu banyak kesalahan fundamental untuk dikoreksi.

Di paragraf pertama, artikel ini mengidentikkan teori neo-klasik dengan liberalisme atau bahkan ultra-liberalisme. Dikatakan bahwa konsep ekonom neo-klasik adalah bahwa masyarakat harus membiarkan kebebasan sebesar-besarnya bagi manusia untuk melakukan kegiatan ekonomi atau dalam istilah umum disebut laissez-faire.

Bagaimana mungkin ekonom neo-klasik disebut sebagai pendukung atau advocate dari laissez faire yang pada hakekatnya tidak menemukan legitimasi bagi institusi non-pasar untuk ikut campur tangan di pasar, apalagi untuk mengendalikan perekonomian?

Untuk memahami perbedaan yang subtil ini orang perlu melongok lebih jauh ke lembaran sejarah abad ke-19 di Eropa, untuk mengetahui bagaimana terjadinya pembajakan istilah liberalisme di abad tersebut, sehingga konsep tersebut di jaman itu kini diasosiasikan penuh dengan konotasi negatif seperti yang dipahami oleh sebagian besar dari kita dewasa ini. Posting saya sebelumnya (Cek Kosong Demokrasi; khususnya di sub-bagian Milton Friedman) menyinggung hal ini.

Sebagai simpulan bagi yang mau instan, anggap saja ada Liberalisme 1 dan Liberalisme 2. Yang satu sangat positif; senafas dengan semangat perekonomian pasar yang laissez faire; yang kedua sangat negatif, yang sarat dengan intervensionisme dan statisme.

Liberalisme 1 kini harus disebut sebagai Liberalisme klasik. Sementara Liberalisme 2 adalah sebagaimana umumnya dipahami sekarang; Liberalisme. Di sini terlihat, para eksponen laissez faire dan perekonomian pasar bahkan harus kehilangan definisi kuncinya, karena sudah terbajak lewat propaganda.

Selain itu, paragraf terakhir dalam artikel di atas menyimpulkan bahwa ekonomi itu tidak bebas nilai.

Perlu ditandaskan bahwa ekonomi adalah disiplin yang wertfrei, bebas-nilai. Bukan berarti disiplin ini akan membawa ke nihilisme, melainkan bahwa ilmu ekonomi adalah disiplin positif (bukan normatif) yang mencoba menemukan hubungan sebab akibat yang sebenar-benarnya di dunia.

Seperti juga ilmu kedokteran yang bersifat bebas-nilai, orang perlu mempelajari virus AIDS atau kloning secara netral untuk memahaminya. Tetapi aplikasi ilmu ekonomi atau ilmu kedokteranlah yang memang sering melibatkan semacam penghakiman nilai.

On Preferences

Suppose we start this posting with four suppositions.

Secondly, suppose we are either totally indifferent about, or have equal preference to, two distinct things.

Thirdly, suppose these things are anything, from tangible to abstract objects.

And, lastly, suppose someone presents to us two arguments, spoken or written, not necessarily in opposition to one another. Both arguments are equally reasonable, well more or less so.

Then, which one will get the better of us? If we must choose, how to do it? How to let go of the other option equally preferrable?

*
This afternoon I took my daughter to a kid’s shop in Bintaro Plaza. We had agreed not to buy anything today; she had agreed to wait until my next payday. After a few minutes, I asked her which one particular toy she’d prefer if I’d had the money. In the end she faced a dilemma over two Bionicle toys. She could not decide on her choice. If only today had been my payday, she would’ve returned home with one particular Bionicle. By then, I’d have known her choice, but only from the end of her thinking process; her demonstrated, or revealed, preference.
*
Perhaps such is the thing with tastes, one would say. Tastes have a lot to do with what we feel--or think--about them. There is no accounting to tastes, you’d probably add. Thus, tastes, or preferences, have to do with opinions, which do not necessarily belong to the agent in question.
*
Don't our schedules of preferences depend on some kind of pre-existing, if vague, opinions about things? Inversely, don't our opinions about things rest on our pre-existing preferences, say, on sheer attraction or something emotionally evoking. As long as we cannot decide which "toy" to take, we will have at least two competitive yet unresolved opinions.